Sigit Susanto, Sastrawan dari Boja yang Mengawali Karir Sebagai Pemandu Wisata di Bali

Tidak ada komentar
Sigit Susanto


Sigit Susanto, Sastrawan dari Boja yang Mengawali Karir Sebagai Pemandu Wisata di Bali


Halo, Teman Baca!

Sebagai warga kabupaten Kendal, saya merasa ikut bangga dengan Sigit Susanto yang merupakan sastrawan dari Boja yang sudah banyak menulis buku dan novel. Sigit Susanto juga menerjemahkan novel karya Franz Kafka berjudul The Trial PROSES yang diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Awal mula saya tahu tentang Sigit Susanto yaitu saat Heri Chandra Santosa yang merupakan pegiat literasi di Boja banyak membahas tentang Sigit Susanto jadi saya langsung penasaran siapa Sigit Susanto. Dan ternyata Sigit Susanto adalah sastrawan dari Boja.

SINOPSIS BUKU THE TRIAL PROSES KARYA FRANZ KAFKA (DITERJEMAHKAN OLEH SIGIT SUSANTO DAN DITERBITKAN OLEH PT GRAMEDIA PUSTAKA UTAMA)

Di apartemennya, Josef K tiba-tiba ditangkap dua petugas. K yang merasa tak punya kesalahanpun kebingungan. Ia ditangkap dan diajukan ke pengadilan. Kejanggalan demi kejanggalan mulai terjadi. Saat di ruang sidang, K menemukan orang-orang yang dibayar untuk tepuk tangan dan berteriak. Proses sidangpun berlarut-larut. Pertemuan K dengan perempuan menambah pelik kasus yang tengah ia hadapi. Kebobrokan mental para petugas pengadilan menambah parah situasi. Apakah K akhirnya akan lolos dari jeratan hukum dan masuk penjara?

Proses adalah novel karya Franz Kafka, salah satu penulis besar abad XX. Novel ini ditulis Franz Kafka pada kurun waktu tahun 1914 – 1915 namun terbit pertama kali pada tahun 1925. Buku ini diterjemahkan langsung dari Bahasa Jerman ke Bahasa Indonesia oleh Sigit Susanto yang merupakan penulis dan sastrawan dari Boja.

Mengenal Sigit Susanto, Sastrawan dari Boja

Sigit Susanto. Seorang lelaki dari Boja yang menikah dengan seorang perempuan dari Swiss yang bernama Claudia Beck. Pengalaman Sigit menikah dengan perempuan dari Swiss itu beliau tulis dalam novel yang berjudul Kesetrum Cinta.

Sigit menempuh pendidikan D3 di Akademi Bahasa milik Yayasan UNTAG Semarang. Di bangku perkuliahan itu Sigit banyak belajar tentang Bahasa Inggris dan Bahasa Jerman. Sejak masih menjadi murid SMA di SMA Negeri 1 Kendal, Sigit sudah mulai tertarik dengan Bahasa Inggris karena orang tuanya Sigit berharap Sigit menjadi guru sama seperti kakaknya. Di SMA Negeri 1 Kendal, Sigit juga mendapat pelajaran Bahasa Jerman.

Saat masih kuliah, Sigit melihat kapal pesiar di Pelabuhan Tanjung Mas Semarang yang dinaiki oleh para turis mancanegara. Dari situlah muncul keinginan Sigit untuk menjadi seorang tour guide. Namun, pada kenyatannnya Sigit tidak ingin menjadi guru. Sigit pun merantau ke Bali, bertemu dengan kakak kelasnya dan kemudian Sigit menjadi tour guide khusus Bahasa Jerman. Sigit hanya bermodal nekat dan semangat karena menjadi tour guide di Bali tidak hanya harus bisa menguasai bahasa asing tapi juga harus menguasai budaya Hindu.

Namun, muncul rasa bosan saat Sigit menjadi tour guide kurang lebih 7 tahun sejak tahun 1988 Sigit mulai menjadi tour guide di Bali. Sigit pun mencoba beli buku di toko buku yang ada di Bali. Membaca banyak karya sastra dan kemudian dari situ muncul keinginan Sigit untuk mendokumentasikan dan berbagi pengalaman melalui tulisan lewat karya buku.

Awalnya, Sigit mencoba menulis artikel di majalah bulanan tour guide tempatnya bekerja. Lalu, kemudian Sigit mulai mencoba menulis pengalamannya menikah dengan Claudia Beck perempuan dari Swiss yang akhirnya jadi karya novel yang berjudul Kesetrum Cinta. Dan kemudian Sigit pun menceritakan pengalamannya keliling 44 negara di dunia melalui buku yang berjudul Menyusuri Lorong-Lorong Dunia. Jika Sigit suka menulis dan membaca maka Claudia suka traveling.

Sigit dan teman-temannya di Swiss mendirikan writers club jadi banyak orang dari berbagai negara berkumpul di writers club ini untuk saling bertemu dan saling membahas tentang dunia membaca dan dunia menulis khususnya di Swiss.

26 tahun menetap di Swiss, akhirnya Sigit dan Claudia bisa menikmati masa pensiun dan bisa ke Indonesia tidak hanya saat musim panas saja. Claudia dan Sigit bisa menikmati bulan Desember di Indonesia setelah masa pensiun tiba. Tahun 1996 Sigit menetap di Swiss bersama dengan Claudia yang merupakan warga Swiss. Dan di tahun 2023, Sigit dan Claudia menikmati masa pensiunnya.

Tips belajar Bahasa Inggris ala Sigit Susanto yaitu setiap hari minimal menulis lima kosa kata Bahasa Inggris di buku tulis dengan begitu maka setiap hari bisa mengingat kosa kata baru Bahasa Inggris. Dan tips awet muda ala Sigit Susanto yaitu yoga setiap hari karena walaupun sudah berusia 60 tahun, Sigit tetap sehat dan bugar.

Terima kasih banyak saya ucapkan untuk Sigit dan Claudia yang sudah memberikan inspirasi banyak orang untuk semangat belajar bahasa asing, peduli kepada sesama, tidak pelit ilmu, dan berbagi pengalaman lewat tulisan melalui karya buku. Thank you very much Mr. Sigit Susanto dan Mrs. Claudia Beck.


 
 
 


Referensi Gambar dan Tulisan : Akun Media Sosial Sigit Susanto

Tidak ada komentar