Lucia Priandarini, Reporter dan Penulis Novel Penyalin Cahaya yang Diadaptasi dari Film Netflix
Halo, Teman Baca!
Menurut informasi yang saya dapatkan dari website Grasindo, Lucia Priandarini lahir di Malang pada tanggal 21 Januari 1984. Ayah dan ibunya Lucia Priandarini adalah dosen jadi punya banyak buku di rumah dan ayahnya punya kebiasaan membaca koran setiap pagi. Jadi, Lucia Priandarini dibesarkan dalam rumah yang penuh buku. Lucia Priandarini menempuh pendidikan S1 jurusan ilmu komunikasi di Universitas Indonesia. Setelah lulus kuliah di tahun 2008, Lucia Priandarini bekerja sebagai reporter di beberapa media termasuk Femina. Lucia Priandarini suka menulis puisi, Lucia Priandarini juga merupakan blogger yang menuliskan tentang kesehariannya di blog www.luciapriandarini.com yang dibisa diakses online melalui laptop atau hape. Lucia Priandarini merupakan penulis novel Penyalin Cahaya yang diadaptasi dari film Penyalin Cahaya yang tayang di Netflix. Novel Penyalin Cahaya karya Lucia Priandarini diterbitkan oleh PT Gramedia Pustaka Utama. Selain itu, novel-novel karya Lucia Priandarini juga diterbitkan oleh Grasindo seperti novel 11:11 dan novel Episode Hujan.
SINOPSIS BUKU PENYALIN CAHAYA KARYA LUCIA PRIANDARINI
Aku Suryani, seorang mahasiswi, ini pertama kalinya aku ke pesta untuk ikut merayakan kemenangan teater Mata Hari, grup teater tempat aku menjadi sukarelawan pembuat website. Di pesta itu aku mabuk hingga tak sadarkan diri saat diantar pulang.
Namun, keesokan harinya tanpa sepengetahuanku, aku mendapati foto-fotoku yang sedang mabuk terunggah di media sosial. Foto-foto itu membuatku kehilangan beasiswa dan diusir dari rumah. Aku yakin seorang anggota teater telah mengerjaiku. Dibantu Amin, teman masa kecilku yang bekerja di kios fotokopi kampus, aku berupaya menelusuri kejadian pada malam pesta itu dengan meretas ponsel para anggota teater Mata Hari.
Bukti-bukti yang aku kumpulkan mengarah pada seseorang. Namun, posisi dan kekuasaan keluarga orang itu membuat pihak kampus memilih untuk berdamai. Konsekuensinya, aku malah harus memublikasikan permohonan maaf. Aku tidak tinggal diam. Aku harus mengungkap kejahatan orang itu, sampai kapanpun.
SINOPSIS BUKU 11:11 KARYA LUCIA PRIANDARINI
Apa hal terburuk dari bertemu orang dari masa lalu? Bisa jadi jawabannya adalah kepingan diri pada masa silam yang diam-diam ingin disembunyikan. Orang bilang masa lalu mestinya ditinggalkan demi menatap masa depan. Padahal, masa lalu adalah cermin untuk mengingat siapa dan dari mana perjalanan manusia bermula. Btari tidak menyangka open trip pertamanya ke Bromo membawanya berjumpa dengan Mikhail teman masa kecilnya. Btari tak pernah lagi bertemu Mikha sejak keluarganya memutuskan pindah ke Jakarta. Dan, kini ia berjumpa Mikha, empat minggu jelang hari pernikahan dengan tunangannya. Perjalanan 1 X 24 jam menuju Bromo bersama laki-laki dari masa lalu membawa Btari pada kisah baru. Menyadarkannya dari 25 tahun cerita hidup yang seolah dituliskan oleh orang lain. Mikhail menunjukkan kepadanya, tak semua orang bisa mendapat kemewahan untuk memilih, ketika sebagian lain hanya bisa menerima. Hingga pada pukul sebelas menit ke sebelas, Btari dan Mikha sampai pada suatu pembicaraan penting. Pembicaraan tentang diri mereka yang sebenarnya. Tentang bagaimana kemarin, hari ini, besok, dan keduanya akan berada.
SINOPSIS BUKU EPISODE HUJAN KARYA LUCIA PRIANDARINI
Hujan membuatku merasa tidak sendiri. Rintik hujan membuatku sadar. Aku bukan satu-satunya orang yang jatuh, lalu pecah membentur batu dan aspal jalanan atau larut bersama kelokan sungai. Pluviophile. Ucap Katya. Apa itu? Itu Kamu. Orang yang merasakan kedamaian saat hujan. Ungkap Katya. Meski ia tahu, pria itu Banyu Mili sepertinya bisa merasa damai kapanpun juga. Bagi orang lain, pembicaraan tentang hujan barangkali terdengar konyol. Tapi, bagi Katya, bersama Banyu Mili pembicaraan topik seremeh temeh cuaca menjadi semenarik film box office.
Katya membenci hujan. Hujan deras turun pada perayaan ulang tahunnya yang ke delapan. Membuat satu-satunya ulang tahun yang pernah dirayakannya berantakan karena tak ada seorang pun dari undangan yang datang. Hujan juga menjadi latar kepergian kakak kandungnya, Bara yang hilang sejak usia sembilan. Dan, hujan turut mengantar kepergian ibunya, yang meninggal saat Katya memutuskan untuk menjadi seorang wartawan. Hujan pun turut mengiringi kehilangan Katya akan Jani, sosok gadis kecil yang menjadi muridnya di sebuah pusat kegiatan belajar mengajar di daerah pinggiran Jakarta tempat anak-anak jalanan mengecap pendidikan. Lalu, masih adakah bagi Katya untuk tak menyalahkan hujan atas semua kehilangan? Katya tak pernah yakin sampai ia bertemu dengan Banyu Mili sosok yang diam-diam mengisi hatinya, yang membuatnya berani mengambil satu keputusan penting dalam hidupnya.
Referensi Gambar dan Tulisan : Blog dan Akun Media Sosial Lucia Priandarini


Tidak ada komentar